LAMPUNG BARAT, Sigerlink.com — Langit rasanya runtuh menimpa pundak seorang ibu bernama MI’ROJ (45). Di tengah derasnya air mata yang membasahi pipinya, ia bercerita tentang mimpi suci yang telah ia bangun bertahun-tahun, namun DIRATAKAN TANAH DALAM SEKEJAP MATA oleh ulah manusia tak berhati nurani.
Di hadapan kamera yang gemetar karena tangisnya yang memilukan, Mi’roj terjatuh berlutut. Ia adalah korban baru dari jeratan penipuan kopi yang kini menjelma menjadi MUSUH BERAT bagi para petani di tanah Lampung. Pelakunya? Seorang lelaki bernama ADON, yang dianggapnya rekan bisnis ternyata adalah IBLIS BERWAJAH MANUSIA.
“Pak Presiden… Bapak Prabowo… Tolong saya, Pak… Saya mohon nyawa saya kalau perlu, tapi kembalikanlah uang itu… Itu bukan uang biasa, Pak… Itu UANG SUCI, tabungan darah daging saya dan suami untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci…”
Suaranya parau, tenggorokannya tercekat, seolah jantungnya remuk berkeping-keping di dalam dada.
“Setiap hari kami bangun sebelum matahari terbit, bekerja di kebun sampai gelap. Kami makan seadanya, kami menahan diri agar tabungan UMROH kami penuh. Kami percaya pada Adon… kami anggap dia saudara… TAPI DIA MAKAN HARAM UANG IBADAH KAMI!” jeritnya, seakan langit pun turut bersedih mendengarnya.
Dada yang hancur, semangat yang hampir mati, Mi’roj pun mengumpulkan sisa kekuatannya. Ia berjalan tertatih-tatih menuju POLDA LAMPUNG, membawa harapan bahwa di sana ada keadilan. Ia pikir, melapor ke institusi pengayom adalah jalan keluar.
Berbulan-bulan ia menunggu. Berhari-hari ia bertanya. Tapi jawaban yang ia dapat hanyalah KEHENINGAN YANG MENYAKITKAN.
Hingga hari ini, ADON MASIH BERJALAN BEBAS. Ia tertawa lepas, menikmati uang haram hasil menipu seorang ibu yang hanya ingin beribadah. Sementara Mi’roj? Ia harus menelan pahitnya kenyataan HUKUM SEOLAH-OLAH TIDAK BERLAKU BAGI RAKYAT KECIL.
“Saya lapor… saya kasih bukti… saya sudah pasrahkan segalanya. Tapi kenapa dia tidak ditangkap? Kenapa dia masih bisa bernapas lega sementara saya rasanya mau MATI KARENA SAKIT HATI? Apakah di negara ini, keadilan itu harus DIBELI? Apakah kami miskin, maka kami tidak berhak dibela?” tanyanya dengan pandangan kosong, matanya yang dulu penuh cahaya harapan kini GELAP TAK BERCAHAYA.
Kisah Mi’roj ini bukan sekadar berita penipuan. Ini adalah SIMBOL DARI PENDERITAAN PANJANG.
Di saat harga kopi dunia melambung tinggi, disebut-sebut sebagai komoditas bernilai EMAS HIJAU, para petaninya justru hidup dalam KEKANGSERAAN.
Mereka yang merawat, menanam, memetik dengan kasih sayang… justru menjadi MANGSA EMPUK bagi para penipu bermulut manis.
Setelah Joni Hartono yang kehilangan Rp1,4 Miliar dan hampir gila karena tekanan hidup, kini giliran Mi’roj yang KEHILANGAN IMPIAN TERMULIA.
Video isak tangis Mi’roj menyebar seperti API DI SERBUK KAYU. Seluruh Indonesia berduka dan MURKA. Ribuan warganet membanjiri kolom komentar dengan kemarahan yang meluap-luap.
“CUKUP! SUDAH CUKUP PENDERITAAN MEREKA! Kapolda Lampung, dengar jeritan IBU INI! Tangkap ADON SEKARANG JUGA! Jangan sampai rakyat berpikir bahwa hukum di sana tumpul dan buta!”
“Ini uang Umroh! Uang yang disiapkan untuk Allah SWT Siapa pun yang mengambilnya, azabnya bukan hanya di dunia. Dan aparat yang diam saja… ingat, Tuhan tidak tidur!”
“Pak Presiden Prabowo! Lihatlah ibunda ini… Beliau tidak minta jabatan, tidak minta kekayaan. Beliau hanya minta HAK-NYA. Tolong turunkan tangan Bapak untuk mengangkat harkat kami yang terinjak-injak ini!”
Di akhir video, Mi’roj terlihat sangat rapuh. Ia memegang dadanya yang sesak, lalu mengangkat wajahnya menatap kamera seolah menatap Pemimpin Negaranya secara langsung.
“Kalau Adon tidak dipenjara… kalau uang saya tidak kembali… saya tidak tahu harus bagaimana lagi. Saya rasa saya tidak sanggup hidup dengan beban ini… Saya cuma minta satu hal: JADIKAN HUKUM ITU PEDANG YANG TAJAM UNTUK PEMBENAR, BUKAN TAMENG BAGI PENJAHAT.
AKANKAH ADA YANG MENDENGAR, AKANKAH ADON AKHIRNYA DI BELENGGU? ATAU AKANKAH KITA LIHAT IBU INI TENGGELAM DALAM KEPUTUSASAAN SELAMANYA.(***)
